Ohhh ini yang namanya Cinta ???



Dahulu aku pernah ditagih simpati seseorang karena ada sesuatu yg menarik dari diriku. Sosok seorang teman yang baik menurutnya, dewasa, ramah, supel dan humoris, dan yang tak kalah pentingnya, aku dibilang imut sehingga membuatnya gemas, fiuh.... Tapi, aku justru takut akan dirinya karena semua itu. Hari itu adalah tepat ulang tahunku yang ke-17, dia mengajakku berbicara empat mata di ujung kelas yang sepi untuk memberikan kado ulang tahun yang sangat spesial, sebuah jam tangan mewah yang sangat indah, aku yakin harga jam tangan itu pasti sangat mahal. Di sela-sela obrolan mengenai ulang tahunku, terselip beberapa ungkapan perasaanya kepadaku. Bodohnya aku secara tidak langsung menerima apa yang menjadi kehendaknya untuk memiliki diriku. Sungguh hari yang sangat istimewa baginya, moment terindah yang dia dapatkan pada saat itu. Dan aku mendapatkan hari yang sangat misterius, ada apa denganku? terlalu banyak pertanyaan dalam benakku akan aku dan dirinya.

Hari pun berganti. Ada yang berubah dalam dirinya, sosok teman yang penuh keceriaan dihadapanku. Dan aku masih tidak sadar bahwa ada perubahan status dalam diriku akan dirinya. Tegur sapa yang terjadi selalu membuatnya tersenyum, tapi aku hanya membalas seperti biasanya. Pernah aku ditanya mengenai pemberiannya, apakah jam tangan pemberiannya aku gunakan? Betapa bahagia dirinya ketika melihat jam tangan itu melingkar erat di lenganku. Di hari berikutnya aku terkena musibah. Aku pulang belakangan dari siswa yang lain. Ada jadwal piket membersihkan musholla. Aku pulang berdua bersama sahabatku. Tak ada tanda-tanda bahwa aku akan terkena musibah. Saat berjalan di trotoar menuju lampu merah tempat biasa aku naik metromini, tiba-tiba ada 3 orang yang mendekat dari belakang, 1 orang merangkulku erat dengan menodongkan sebilah pisau tepat disamping perutku, dan 2 orang temannya memegang erat sahabatku. Tanpa basa-basi aku dipaksa untuk menyerahkan jam tangan indah itu kepadanya. Aku menolak, tapi seketika itu pula aku mendapatkan pukulan keras tepat di pelipis mata kananku hingga aku tersungkur ke trotoar. Terasa sakit dan pening di kepalaku, pandanganku seketika menjadi kabur. Dan orang itu melepaskan jam tanganku dengan paksa, tapi aku tetap mencoba untuk berontak. Akhirnya kuputuskan melepas jam tangan itu setelah orang itu mengancam akan menikamku. Sahabatku pun tidak bisa membantu hanya memohon kepadanya agar tidak melakukan itu. Terlebih-lebih orang sekitar yang melihat kejadian itu, mereka hanya menonton, tak menggubris teriakan ku minta tolong, seolah-olah mereka sedang menyaksikan pertunjukkan teater diatas panggung. Tapi sudahlah, mungkin itu sudah takdirku untuk tidak memiliki jam tangan itu dalam waktu lama. Dan aku pun pulang dengan bercucuran air mata, tak peduli didalam metromini yang penuh dengan penumpang. Tangis kesedihan ku bukan karena rasa sakit di kepala dan memar di wajahku, melainkan sejumlah pertanyaan atas apa yang baru saja terjadi. Ada apa denganku? adakah salah yang pernah kuperbuat sehingga aku layak mendapatkan peristiwa ini?

Kehadiranku di sekolah dengan memar di wajah mengundang sejumlah pertanyaan dari teman-teman kelasku, kujelaskan kepada mereka persis seperti yang aku alami saat itu. Tanpa disadari berita ini sampai ketelinganya, padahal dia beda kelas denganku, tapi mungkin ada yang bercerita kepadanya. Dan dia pun bertanya langsung kepadaku dengan wajah penuh kesedihan, terlebih-lebih ketika mengetahui jam tangan pemberiannya tak lagi menghiasi lenganku. Ada yang aneh dari salah satu ungkapan dirinya tentang peristiwa yang aku alami. Dia bilang aku tak bisa menjaganya, karena aku tak bisa menjaga pemberiannya. Sejumlah pertanyaan pun melintas dalam pikiranku, ada apa denganku? apakah aku salah bertindak ketika itu? apakah sebaiknya aku tersungkur bersimbah darah karena mempertahankan jam tangan itu? bukankah harta itu masih bisa dicari dikemudian hari? Entahlah...

Dalam lamunanku, akhirnya kuputuskan untuk menjelaskan kepadanya, apa yang sebenarnya aku rasakan. Selepas pulang sekolah aku pun mengajaknya ke rumah makan di salah satu Mall terdekat dari sekolah. Aku tidak sendiri, aku ditemani sahabat terbaikku, dan dia pun tidak sendiri, dia bersama seseorang yang menaruh hati kepada sahabatku itu. Pembicaraan di rumah makan itu adalah moment yang sangat menyakitkan baginya, karena aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Harapan-harapan indah dirinya kepadaku tak kan pernah bisa diwujudkan mulai saat itu. Aku menyatakan bahwa aku telah salah dalam menerimanya, aku bodoh karena tidak bisa memahami diriku sendiri, dan aku katakan bahwa ada yang lebih berhak atas dirinya, karena ada salah satu dari sahabatku yang menaruh simpati kepadanya. Selepas dari rumah makan itu, terlihat sekali kesedihan yang sangat memuncak dari wajahnya, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dan dia pun berlalu setelah naik kendaraan umum untuk pulang kerumahnya. Fiuh... hari yang sangat menyedihkan. Dan kembali pertanyaan itu muncul dalam benakku, ada apa denganku? adakah yang salah atas keputusanku itu? Entahlah...

Hari demi hari pun berganti, sesuatu yang berbeda telah tampak pada dirinya. Dia menjauh dariku, jauh dan terus menjauh. Seolah-olah aku adalah sosok yang tidak layak untuk didekati lagi. Tapi, aku harus menerima kenyataan ini, mungkin ini sudah takdirku, mungkin ini untuk kebaikanku dan kebaikannya pula. Ketika dia sudah memiliki pujaan hati yang baru, aku pun merasa lega, karena tak ada lagi yang perlu aku risaukan tentang dirinya. Aku hanya masih dihantui oleh perasaan bersalah. Ada apa denganku? Mungkin aku telah salah jalan, ada yang harus aku perbaiki dalam diri ini.

Comments

  1. tapi seharusnya cwo kan mengerti .....
    klo cwe biasanya itu menunggu...

    ReplyDelete
  2. Anonymous16/2/11

    silvi@: jgn egois kedua2nya jg harus sependapat,

    ReplyDelete
  3. silvi@: hahahah ada rahasia dibalik rahasia
    aninim@: sip bray

    ReplyDelete
  4. Anonymous17/2/11

    untuk skarng meningan kita renungin aja masalahnya mas.... tinggal kitanya skarang jangan sampai hal itu terulang kembali,
    saya jg menyesal mendiamkan perasaan ini... maju terussssss
    putus satu tumbul seribu haha...

    ReplyDelete
  5. klo cwe sih pemalu gk bisa ngandelin cwo yg sukanya nunggu.....

    ReplyDelete
  6. Anonymous13/4/11

    hahahaha malu-malu garong lalaki mah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

About Me

Andai Kamu Tau

kau kembali lagi